Wawali Ambon Ely Toisuta Tekankan Pentingnya Budaya Baca Saat Buka Lomba Bertutur SD Dan MI Se-Kota Ambon
SUARAREFORMASI.COM.AMBON – Di tengah kebiasaan anak-anak yang semakin akrab dengan layar gawai, Pemerintah Kota Ambon mengajak seluruh sekolah mengembalikan buku sebagai sahabat terbaik peserta didik. Sebab, dari lembar demi lembar buku, lahir generasi yang berpikir kritis, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Pesan itu disampaikan Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisuta, saat membuka Lomba Bertutur Tingkat SD dan MI se-Kota Ambon di Lantai 7 Hotel Kamari, Ambon, Senin (20/7/2026).
Dalam sambutannya, Ely mengingatkan pandangan budayawan Taufik Ismail mengenai istilah “Tragedi Nol Buku”, yang menggambarkan minimnya kebiasaan membaca buku sastra secara utuh di kalangan pelajar Indonesia dibandingkan sejumlah negara lain.
“Pandangan ini menjadi pengingat bagi kita bahwa budaya membaca harus terus dibangun sejak usia dini agar anak-anak memiliki kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, dan mencintai ilmu pengetahuan,” ujar Ely.
Ia mengatakan, berbagai survei menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia masih perlu ditingkatkan. Sementara itu, anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu menggunakan gawai untuk mengakses media sosial dan menikmati berbagai konten digital. Tokoh& Masyarakat
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi seluruh pihak untuk memastikan budaya membaca tetap tumbuh di era digital.
Karena itu, Pemkot Ambon mendorong setiap satuan pendidikan menghadirkan program literasi yang berkelanjutan. Salah satu gagasan yang diusulkan ialah membiasakan setiap siswa membaca minimal satu buku setiap minggu.
Setelah membaca, peserta didik diharapkan mampu menceritakan kembali isi buku, menyusun ringkasan, membuat resensi, maupun menghasilkan karya kreatif lain sebagai bentuk pemahaman terhadap bacaan.
Selain itu, Ely juga mengusulkan agar sekolah menggelar program Library Day secara rutin. Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat meminjam buku perpustakaan setiap pekan, mempelajari kosakata baru, menyusun kalimat, hingga membuat rangkuman menggunakan bahasa mereka sendiri.
Ia menegaskan, penguatan budaya literasi tidak dapat dilakukan oleh sekolah semata. Kolaborasi dengan Dinas Perpustakaan serta seluruh pemangku kepentingan diperlukan untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Gemar Membaca (TGM) Kota Ambon.
Ely mengungkapkan, capaian literasi Kota Ambon pada penilaian tahun 2025 masih perlu ditingkatkan. Dari 204 sekolah yang menjadi sasaran, hanya 115 sekolah yang masuk dalam sampel penilaian. Kondisi itu berdampak pada capaian Tingkat Gemar Membaca sebesar 59,75 dan IPLM sebesar 11,74.
“Harapan saya, tahun ini seluruh sekolah dapat berpartisipasi lebih aktif sehingga capaian IPLM maupun Tingkat Gemar Membaca Kota Ambon dapat meningkat secara signifikan,” katanya.
Lebih jauh, Ely menilai Lomba Bertutur bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga media membentuk karakter anak melalui kebiasaan membaca. Dengan membaca dan menceritakan kembali isi buku, anak-anak dilatih memahami informasi, mengembangkan imajinasi, meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum, sekaligus membangun rasa percaya diri.
“Kalian semua yang hadir di sini adalah pemenang. Karena kalian telah berani membaca, berani belajar, dan berani tampil menyampaikan cerita di hadapan banyak orang. Jadikan lomba ini sebagai pengalaman yang menyenangkan untuk terus mencintai buku dan literasi,” pesannya kepada para peserta.
Di akhir sambutannya, Ely mengajak kepala sekolah, guru, orang tua, serta seluruh pemangku kepentingan di Kota Ambon untuk menjadikan membaca sebagai budaya di lingkungan sekolah.
Indonesia
English
Belum Ada Komentar